"Celotehan Rindu"
16 Agustus 2010
Ya Rabb Tuhan Semesta Alam...
- Comment( 0) »
- Published under Suara Kalbu
Ya Rabb Tuhan Semesta Alam...
Sumber keunikan terbesar al-Qur’an adalah mengetuk hati yang beku dan berkarat. Sehingga terdoronglah pintu pikiran lalu terbukalah pintu hidayah. Pesan al-Qur’an mengajak umat manusia agar senantiasa responsif, sensitif kepada kebaikan dengan mengaktifkan rasio kita. Yaitu melalui terbukanya tabir tersebut, Pesan itu dapat masuk ke lubuk hati dan akal pikiran, sekiranya kita sedikit mau memperdulikan dan mau memperhatikannya.
Shahabat Umar bin al-Khatab Ra berkata: "Kalaulah aku tidak takut kebaikanku berkurang, aku akan mengikuti pola kehidupan kalian yang enak, namun aku telah mendengar Allah SWT menjelaskan tentang suatu kaum.
Di sebutlah dalam (QS: Al-Isro: 9) yang artinya “Al-Quran ini sesungguhnya menunjuki kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang melakukan perbuatan baik, bahwa untuk mereka balasan yang besar”. Begitulah kehidupan dan akhlak mereka para salafu ashalih, lain dengan kehidupan kita sekarang ini, apalagi dalam konteks yang lebih makro.
Sepenggal ayat diatas adalah framework, metode, ciri bagaimana al-Qur’an ikut andil membimbing manusia kepada jalan yang di ridhoi Allah Swt dan hanif. Tentunya sesuai kepada tabiat kejadian dari beragam konsumtif kehidupanya. Dunia harus di kejar, bukan dilamunin kata pujangga. Namun alam ini hanyalah media menuju ke alam lain yaitu akherat. Ayat suci Al-Qur’an berisi himbauan untuk tidak terlena dengan glamornya dunia. Bagaimanapun sengsara atau bahagianya kehidupan seseorang. Sekalipun dia merasa disisihkan, tetapi sejatinya tidaklah dilepaskan, dibiarkan sendiri menelanjangi komplektisitas kehidupan ini.
Tumpuan pluralitas umat manusia salah satunya tercipta oleh iklim pendidikan yang menyehatkan baik jasmani maupun rohaninya. Tulisan Shobahusurur “Malas dan Lalai Perspektif al-Qur’an dan Sunnah menarik Untuk disimak. Beliau menyinggung pendekatan spiritualtas asketis dalam al-Qur’an dan Sunnah, ia beriktisar bahwa al-Qur’an mengelompokkan orang malas dan lalai sebagai orang yang zalim, kufur nikmat, lupa diri, dan munafik. Untuk itu, kemalasan harus di sembuhkan dengan cara-cara internal spiritual dan eksternal rasional.
Disadari atau tidak, hampir semua orang, dengan kadar berbeda, pernah mengalami penyakit mental ini. Mulai dari anak usia belia TK, remaja, SD.,sampai menginjak dewasa yaitu, SMP, SMA sampai tingkat manula pun mereka ikut bersaing menonjolkan diri mereka dalam enggananya serius dalam proses belajar (Baca Malas). Saya Teringat oleh ungkapanya Netty Hartati “Islam dan Psikologi” Belajar bukan saja melibatkan penguasaan kemampuan akademik semata, tetapi melibatkan emosi, interaksi social, dan perkembangan kepribadian. Sementara Morgan dikutip dari Abdul Rahman dan Muhibbin Abdul Wahhab, “Psikologi dalam Perspektif Islam” mengemukakan, belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.
Dengan demikian, kata kunci dari learning adalah chang (perubahan), baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perubahan itu ada karena individu melakukan sejumlah latihan serta pengalaman. Memang belajar adalah aktifitas paling kompleks dan tidak bisa diamati secara instant. Ada siswa yang keliatanya konsentrasi, khusu’ tak sedikitpun matanya tengok kanan tengok kiri, atau munkin matapun tidak sempat berkedip ketika transfer knouwlege, tetapi setelah di beri beberapa pertanyaan, dia tidak mengerti dan tidak paham yang baru disampaikan gurunya. Maka penulis berasumsi sesungguhnya ia belum atau tidak di katakan belajar.
Dimanakah kekeliruan dalam kegiatan pembelajaran tersebut, gurunya ataukah muridnya yang tidak paham dengan materi yang di ampunya..?. Dari diskursus tersebut kiranya kita tidak perlu menyalahkan keduanya, kita setidaknya intropeksi, evaluasi kemudian belajar. Bahwa pemahaman, metodologi, baik tata ruang kelas, kebersihan maupun kerapian atau biasa di sebut dengan ‘classical conditioning’ yaitu sebuah teori tentang penciptakan reflek baru. Tak kalah penting lainya menurut Psikiater Niken Iriani adalah fasilitas sekolah juga sangat menentukkan prestasi anak didiknya selain peran orang tua. Tapi itu bukanlah menjadi sebuah ukuran mutlak yang harus segera di amputasi. Makanya perhatian, loyalitas dalam sebuah institusi dunia pendidikan serta keikhlasan guru dalam mentranfer ilmu kepada peserta didiknya sangat signifikan.
Hasil UAN-pun akan memuaskan bila interaksi guru dengan murid selalu harmonis tidak egoistik. Banyak contoh terkait fenomena tersebut yang justru terjebak dalam amunisi yang tidak sehat. Diantaranya bagaimana citra sekolah pada tahun ini 2010 di beberapa daerah missal NTB, Jayapura, sebagian di jawa tengah Cilacap Dll, buruk akibat Nilai Uan yang jeblok, tidak mencapai nilai standar pemerintah. Padahal menurut analisa, penelusuran ahli pendidikan, kelulusan bukanlah semata mata di ukur dari segelintir nilai, tapi bagaimana anak didik tersebut di bekali dengan sangu pengetahuan agama, akhlak, dan mental. Agar kelak di masa yang akan datang dia sukses, selamat menjalanin puberitas bahtera kehidupanya baik dunia dan akheratnya.
Itulah mengapa dikatakatan oleh Imam al-Ghazali bahwa pendidikan anak, intinya adalah membentuk manusia beriman dan bertakwa, memiliki moral dan budi pekerti yang tinggi yaitu dengan menyeimbangkan antara aspek fikir dan zikir secara bersama-sama, sekiranya di kontektualisasikan ke wilayah alam pendidikan nasional kita Indonesia, ada tiga titik singgung; 1) Aspek keilmuan, 2), Aspek kerohanian, dan 3), Aspek ketuhanan. (Zainuddun, dkk. Seluk beluk Pendidikan dari Al-Ghazali).
Dari paparan tersebut, dapat di simpulkan bahwa, mengingat tujuan penciptaan manusia sarat dengan nuansa moral, maka moralitas merupakan tujuan hakiki pendidkan Islam, sehingga idealitas kependidikan yang akan menjadi ideologi kependidikan mesti menyentuh aspek moralitas. Juga prilaku moral Islam tidak terlepas dari metafisis ke Ilahia-an dalam rangka mewujudkan fungsionalitas manusia sebagai Khalifah fil Ardh. oleh karenya kosekuensi terhadap idealitas kependidikan Islam mesti pula terkait dengan konsep Tauhid baik dalam tataran ideologis maupun dalam praktik kependidikannya.
Untuk itu pengenalan akan konsep amar ma’ruf dan nahi munkar perlu di wujudkan di institusi pendidikan, bukan saja dipesantren modern maupun tradisional yang 100% berbasis ilmu keagaaman, juga umum, tapi institusi di bawah payung pemerintah juga perlu di monitoring dan diberlakukan sama agar tidak terjadi "penyelewengan kepentingan"… Wallaahu al-Hadi Ila Shawab.
Gusfa..CIOS, 26, April 2010.
Penyelenggaranya, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan International Center for Islam and Pluralism (ICIP), menghadirkan Nasr Hamid Abu Zayd sebagai pembicara utama. Acara tersebut dilaporkan oleh media masa seperti Suara Merdeka, Media Indonesia, dan lain-lain. Mungkin banyak yang mengira gema pemikiran Abu Zayd terbatas dilingkungan cendekiawan dan mahasiswa yang menekuni studi Islam. Padahal, tidak sedikit kaum terpelajar lain yang diam-diam menaruh minat dan mengamati perkembangan kajian pemikiran Islam di tanah air maupun di luar negeri. Misalnya Nasir (bukan nama sebenarnya), dosen teknik mesin yang kini sedang menyelesaikan program doktornya di RWTH Aachen, dan Sumitro (juga nama samaran), mahasiswa pascasarjana di universitas Dortmund, Jerman. Mereka resah, setelah membaca artikel tentang Abu Zayd dan pikiran-pikirannya. Mereka ingin dapat jawaban segera, bagaimana, mengapa, apa maunya Abu Zayd dengan gagasan-gagasannya itu. Mereka meminta saya untuk memberikan tanggapan atas apa yang mereka baca di media masa.
Nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual asal Mesir yang ‘kabur’ ke Belanda dan kini mengajar di universitas Leiden itu, pertama kali saya dengar dari Profesor Arif Nayed, seorang pakar hermeneutika yang pernah menjadi guru besar tamu di ISTAC Malaysia, sekitar tujuh tahun yang lalu. Perkembangan kasusnya saya ikuti dari liputan media dan laporan jurnal. Misalnya, lewat artikel Stefan Wild, “Die andere Seite des Textes: Nasr Hamid Abu Zaid und der Koran” dalam jurnal die Welt des Islam, no.33 (1993), hlm. 256-261, tulisan Navid Kermani, “Die Affaere Abu Zayd: Eine Kritik an religioesen Diskurs und ihre Folgen” dalam jurnal Orient, no.35 (1994), hlm. 25-49, dan Charles Hirschkind, “Heresy or Hermeneutics: The Case of Nasr Hamid Abu Zayd” dalam American Journal of Islamic Social Sciences (AJISS) vol.12, no.4 (1995).
Beliau juga berkata: ”Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akherat, sedangkan kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya.” Allahu Al-hadi ila shawab..