Go to content Go to navigation Go to search

Manaje Waktu
17 Maret 2010


لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه وعن علمه فيما فعل به و عن ماله من أين اكتسبه وعن جسمه فيما أبلاه"


Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi, dan menurut beliau derajatnya hasan shahih)


Siapakah yang bertanya dalam hadits ini? Dia adalah Allah Subhanahu wa Taala Rabb/Tuhan semesta alam, pada hari di mana seseorang tidak bisa memberi manfaat kepada selainnya dan keputusan hari itu hanya ada di tangan Allah Subhanahu wa Taala. Apakah sudah engakau persiapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan diatas?


Benar, kita akan ditanya pada hari kiamat tentang perkara-perkara di atas, dan yang paling penting adalah tentang umur kita yang itu adalah rangkaian dari menit-menit dan detik-detik, yang nafas-nafas kita berhembus dan tidak mungkin akan terulang. Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah bahwa dia berkata:



ما من يوم ينشق فجره إلا وينادى يا ابن آدم أنا خلق جديد وعلى عملك شهيد فتزود منى فإني إذا مضيت لا أعود إلى يوم القيامة


Tidak ada suatu hari yang fajar terbit pada hari itu kecuali dia akan berseru:”Wahai anak Adam sesungguhnya aku adalah makhluk baru, aku akan menjadi saksi terhadap amalan-amalanmu, maka berbekalah dariku, karena sesungguhnya apabila aku telah berlau, aku tidak akan kembali sampai hari kiamat.


Beliau juga berkata:



أدركت أقواما كان أحدهم أشح على عمره منه على درهمه


Aku pernah bertemu dengan suatu kaum yang salah seorang di antara mereka lebih kikir terhadap umurnya dibandingkan kikir mereka terhadap dirham (harta) mereka


Beliau juga berkata:



إنما أنت أيام مجموعة كلما مضى يوم مضى بعضك


Seungguhnya kalian adalah kumpulan/rangkaian (hari-hari). Apabila berlalu satu hari maka hilanglah sebagianmu

Beliau juga berkata:



ما أطال عبد الأمل إلا أساء العمل


Tidaklah seseorang panjang angan-angan kecuali dia akan berbuat keburukan



• عن ابن مسعود قال :ما ندمت على شيء ندمى على يوم غربت شمسه نقص فيه أجلى ولم يزد فيه عملي


Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:”Tidaklah aku menyesal melebihi penyesalanku terhadap suatu hari di mana matahari terbit di dalamnya dan berkurang umurku akan tetapi tidak bertambah amalanku (kebaikan).”



وقيل للإمام أحمد رحمه الله :كيف أصبحت ؟ فقال :في عمر ينقص وذنوب تزيد


Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya:”Bagaimana engkau memasuki waktu pagi?”Maka beliau menjawab:”Umurku berkurang sementara dosaku bertambah.”


Dan para salaf berkata:



من علامة المقت إضاعة الوقت و كانوا يحرصون كل الحرص على ألا يمر يوم أو بعض يوم دون أن يتزودوا منها بعلم نافع أو عمل صالح حتى لا تتسرب الأعمار سدى و تضيع هباء


Termasuk salah satu tanda hamba dibenci Allah adalah dia menyia-nyiakan waktu.” Dan mereka (para salaf) sangat bersungguh-sungguh untuk tidak melewatkan satu hari atau sebagian hari tanpa membekali diri mereka dari hari itu dengan ilmu yang bermanfaat atau amalan shalih, supaya tidak berlalu (habis) umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma.


Maka wajib bagi engkau wahai saudaraku untuk mengoreksi dan intropeksi diri……Bagaimana engkau menghabiskan waktumu???? Sesunguhnya manusia adalah kumpulan waktu yang ia hidup di dalamnya, apabila dia menyia-nyiakannya maka di atelah menyia-nyiakan dirinya. Betapa banyak kita menyia-nyiakan umur kita tanpa ada tambahan ilmu, amal dan tanpa ada penyesalan


Cara Memanfaatkan Waktu


Lalu apa kewajiban kita terhadap umur kita, supaya kita termasuk orang-orang yang menyesal pada hari kiamat? Kewajiban kita terhadap umur kita (waktu) adalah sebagai berikut:


1. Menjaganya seperti kita harta kita, bahkan lebih sungguh-sungguh lagi dalam menjaganya, yaitu dengan bersungguh-sungguh mengambil faidah darinya dalam hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akherat. Dan para ulama terdahulu (salaf) adalah orang yang paling semangat dalam menjaga waktu dan mereka adalah orang yang paling tahu tentang nilai waktu. Mereka tidak akan membiarkan waktu berlalu walaupu sekejap, tanpa mengambil bekal darinya dengan ilmu yang bermanfaat, amal, shalih mujahadah, atau memberikan manfaat kepada orang lain supaya tidak berlalu (habis) umur mereka dengan sia-sia dan terbuang dengan percuma. Mereka tidak pernah berpikiran bahwa: sekarang kita berbuat sesuka dan semau kita……..dan besok mati dan pena (catatan amal) telah diangkat.


2. Memanfaatkannya dengan sesuatu yahg paling penting kemudian yang penting, jangan sibuk dengan sesuatu yang rendah dan tidak bermanfaat dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat (menggunakan skala prioritas)


3. Menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu mubah, karena hal itu akan menyebabkan kita menyia-nyiakan waktu, kalau kita melakukannya tidak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala. Karena hal yang mubah/boleh bisa menjadi ibadah kalau diniatkan karena Allah.


4. Menjadikan berlalunya siang dan malam sebagai pelajaran, karena sesungguhnya siang dan malam yang bergantian adalah makhluk yang baru dan keduanya telah melipat umur kita.


5. bersungguh-sungguh untuk mendapatkan waktu yang telah Allah istimewakan dengan kekhususan-kekhususan tertentu dari waktu-wqaktu yang lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Taala mengistimewakan tempat-tempat tertentu dibandingkan yang lainnya dan mengistimewakan hari tertentu dari yang lainnya, bulan tertentu dari yang lainnya, seperti Ramadhan diistimewkan oleh Allah dar bulan-bulan yang lainnya. Maka manfaatkanlah bulan atau waktu-waktu itu dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Taala. Dan jangan engkau jadikan bulan atau waktu-waktu yang penuh berkah ini berlalu sebagaimana waktu-waktu atau bulan lain.


6. Menghindari dan mewaspadai hal-hal yang menjadi perusak waktu, yang paling berbahaya adalah panjang angan-angan di dunia dan tertipu dengan amalan-amalannya (merasa amal shalihnya telah banyak), berprasangka baik dengan dirinya, teman yang buruk, kelalaian dan menunda-nunda amalan baik.


7. Termasuk hak umurmu yang harus ditunaikan adalah supaya engkau memakmurkan dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat dari ilmu dan amal yang shalih. Jangan engkau menundanya sampai besok. Menanamlah hari ini untuk engkau panen esok hari, kalau tidak maka engkau akan menyesal di hari di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan pada hari itu.


Seorang penyair berkata:


تزود من التـقـوى فإنك لا تـدري ...........إذا جنَّ ليـل هل تعيـش إلى الفـجـر

فكم من سـليم مـات من غير عـلة ...........و كم من سقيم عاش حيناً من الدهر

و كم من فتى يمسي و يصبح آمناً ...........و قد نسجت أكفانه و هو لا يـدري



Berbekalah dengan ketakwaan karena engkau tidak tahu


Apabila malam telah gelap apakah engakau akan hidup esok hari


Betapa banyak orang yang sehat meningal tanpa didahului sakit


Dan betapa banyak orang yang sakit ternyata hidup lama


Betapa banyak seorang pemuda sore dan pagi harinya dalam kondisi aman


Padahal kain kafannya telah digunting dan dia tidak mengetahuinya




Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:”Keuntungan terbesar di dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling utama dan bermanfaat untuk kehidupan akherat. Bagaimana dikatakan berakal seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat (kesenangan dunia) yang hanya sesaat.”



Beliau juga berkata: Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akherat, sedangkan kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya.”  Allahu Al-hadi ila shawab..



BERIMAN
11 Maret 2010

BERIMAN di sini maksudnya adalah percaya dengan sepenuh hati. Orang yang beriman dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran dalam banyak ayatnya. Saya hanya ingin memberikan refleksi sederhana dan ringkas saja mengenai kata ini: BERIMAN.

Di awal surah al-Baqarah (2): 1-5 Allah menerangkan kepada kita bahwa Al-Quran merupakan satu kitab petunjuk yang tidak mengandung keraguan (rayb) sedikitpun. Karena dia petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa (al-Muttaqun/al-Muttaqin) ini sifatnya menurut Allah adalah: (i) BERIMAN kepada yang ghaib; (ii) mendirikan Shalat; (iii) menginfaq-kan sebagian rezeki --yang diberikan oleh Allah kepada mereka; (iv) BERIMAN kepada ISLAM (ajaran dan kandungannya) yang turun kepada Baginda Rasulullah; (v) BERIMAN kepada wahyu-wahyu Allah turun kepada nabi-nabi sebelum Rasulullah; (vi) Yaqin benar kepada adanya Hari Akhirat. Dan sebagai hasilnya akhirnya: Allah memuji mereka. Bahwa mereka itu lah orang-orang yang berada dalam petunjuk (hidayah) Allah. Karena demikian, mereka menjadi orang-orang yang sukses (beruntung, al-Muflihun)

Melihat ciri-ciri orang yang BERIMAN di atas, kita bisa menegur diri kita sekarang. Apakah kita benar-benar MUKMIN (BERIMAN). Yaitu orang yang memiliki sifat-sifat seperti tersebut di atas? Dimana kita dianggap orang yang Muttaqun oleh Allah? Sebentar, pertanyaan ini jangan dijawab dahulu. Karena ada sifat orang yang BERIMAN dalam surah dan ayat yang lain. Yaitu dalam Qs. al-Anfal (8): 2-4.

Dalam Qs. 8: 2-4 ini, Allah menegaskan bahwa orang-orang BERIMAN yang hakiki sifatnya: (i) Mereka yang jika disebutkan nama Allah, Qalbu mereka bergetar (berguncang hebat); (ii) Mereka yang jika dibacakan ayat-ayat Allah --terhadapnya--semakin bertambah IMAN-nya; dan (iii) Mereka yang menjadikan Allah sebagai "WAKIL" dari urusan mereka semuanya. Mereka benar-benar Mutawakkil (ber-TAWAKAL) kepada-Nya; (iv) Mereka yang mendirikan Shalat; (v) Mereka yang suka berinfaq. Karena mereka memiliki sifat-sifat tersebut, mereka pun dipuji oleh Allah. Maka, Allah menjelaskan bahwa mereka itu lah MUKMIN SEJATI. Karena IMAN-nya "sejati" alias "murni", maka mereka memperoleh anugerah banyak dan derajat tak terhitung dari Allah. Tidak cukup hanya itu, mereka pun menjadi ampunan (maghfirah) dan rezeki yang muliah (baik dan penuh berkah) dari-Nya.

Dus, sekarang, bagaimana perasaan Anda (termasuk) saya jika ayat-ayat ini dilekatkan dan dinisbatkan kepada diri kita: Apakah kita sudah benar-benar MUKMIN? Jawabannya, saya ingin mengutip kisah seoranf sufi besar dari kalangan Tabi`in, al-Hasan al-Bashri. Yang ditanya oleh seseorang, "Aanta Mukmin" (Apakah Anda seorang Mukmin?). al-Hasan al-Bashri menjawab, "Kalau sifat seorang Mukmin itu seperti yang tertera di awal surah al-Baqarah, ya saya MUKMIN. Tapi, jika sifatnya percis seperti dalam surah al-Anfal, mohon maaf, saya tidak tahu apakah saya MUKMIN atau BUKAN."

Exactly, satu statemen dan jawaban yang jujur: keluar dari lubuk dan relung qalbu yang amat dalam dan penuh kesadaran. Dan dengan jawaban al-Hasan al-Bashri ini, saya pun tidak ingin memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Saya malu. [Q]

Masa depan Agama "Kita"
10 Maret 2010

Tautan berikut Akan memaparkan seberapa kuat Esensi keislaman kita,  sebab hal tersebut Penting Untuk dihayati oleh kita semua sebagai seorang muslim, walaupun ini bukanlah korpus suci. yang layak dihargai untuk disakralkan, Namun itu tidak mengapa. Baiklah to the point saja, Sebagian di antara kita mungkin tidak tersadar, bahwa di usia kita yang semakin mendekat ujung ini belum terbesit dalam pikiran, “Apakah kita sudah berislam secara baik? Dan bagaimana keislamanku esok hari? Serta seperti apa anak cucu kita berislam nanti?”

Maka beruntunglah bagi kita yang selalu rutin berintrospeksi diri – sehingga kualitas beragamanya makin meningkat. Tentu introspeksi diri yang baik akan memunculkan pemikiran yang idealis. Sehingga mampu melakukan maping dengan cerdas.

Jika di antara kita belum lakukan itu semua, maka kita sebenarnya belum serius memperbaiki keislaman kita. Dan merupakan sebuah keterlambatan (meskipun sebenarnya tak ada kata terlambat), karena introspeksi dan maping masa depan keagamaan itu telah didahului orang lain.

Santiago Zabala – peneliti filsafat di Universitas Luteran Roma Italia –menulis sebuah esai berjudul A Religion Without Theist or Ateists, yang salah satu isinya berupa ‘ramalan-ramalan’ tentang keberagamaan manusia di dunia ini. Nampaknya dalam keinginannya, ia memimpikan masyarakat dunia kelak akan kehilangan kultur religiusnya. Mimpi Zabala tampaknya mirip dengan clotehan B. Russel yang mengajurkan agar manusia bertuhan tanpa beragama.

Mimpi Zabala bukan sekedar angan-angan kosong. Dengan, liberalisasi dan sekularisasi niscaya manusia mau tak mau harus mengikuti arus postmodernisme itu. Angan-angan Zabala tampaknya terinspirasi dari Filosof ateis abad pertengahan.

Sebelum Santiago Zabala, sederet nama filosof eropa telah memiliki gagasan yang hampir sama dengannya. David Hume, filosof modern telah menegaskan, kebenaran itu bukanlah dari rohaniwan atau kitab suci, yang benar dan ilmiah adalah sesuatu yang tampak dalam indera dan dinalar. Dengan sinis Hume mengatakan :“Agama adalah mitos” . Lebih sinis lagi Friedrich Nietzsche –filsuf Jerman- dengan ‘congkanya’ mengatakan, Tuhan telah mati.

Nietzsche, B. Russel, dan David Hume, kini telah tiada. Santiago Zabala juga bisa duduk manis di kursi kantornya di Roma Italia. Mereka berempat mungkin akan ‘tertawa’ jika tahu ada cendekiawan muslim Indonesia yang meneruskan ide besarnya. Buku, jurnal dan dan kajian-kajian di perguruan tinggi Islam sudah tak malu lagi mengatakan “syari’ah hrs dimodernkan”, “Pemikiran Imam Syafi’I dan al-Ghazali terlalu kuno untuk saat ini”,”agama itu relative”, “al-Qur’an itu sudah tidak sakral lagi” dst.

Dalam buku “Masa Depan Agama” karya dosen di perguruan tinggi Islam menyimpulkan, bahwa agama yang mampu bertahan di dunia modern adalah agama yang lunak, tidak kaku menafsirkan agama, inklusif dan menerima kebenaran ajaran yang lain. Buku ini tampaknya terinspirasi dari buku “The Future of Religion” karya Richard Rortry dan Gianni Vattimo. Atau mengcopy pemikiran John Hick tokoh pluralis yang juga meramalkan bahwa agama-agama di dunia nanti akan mereduksi dan menemukan satu kesatuan yang sama.

Seperti apa nantinya keislaman kita kedepan? Tentu tantangannya tidak ringan. Tergantung bagaimana kesadaran keberagamaan kita saat ini. Jika filosof Barat telah membuat maping – dan telah terasa pengaruhnya saat ini – maka sudah saatnya lah, muhasabah kita bukan sekedar introspeksi untuk diri pribadi, akan tetapi introsepeksi terhadap keberagamaan saudara kita dan anak-anak terutama nasibnya ke depan.

Mendidik bukan sekedar membuat menjadi pintar, tapi juga cerdas. Cerdas dalam artian memiliki kemampuan manajemen diri dan social dengan baik, kokoh, dan memiliki modal basic fatih yang kuat. Sejak dini perkuat kemampuan cara pandangnya secara Islami, sehingga mampu menyelesaikan segala persoalan secara Islami dan tak mudah terbawa arus modernisasi pemikiran.

Semoga keislaman kita semakin baik, dan anak cucuk kita kelak tetap bisa nikmati keindahan dan kedamaian Islam. Amiiin. Robbijalni muqiimashsholaah wamin dzurriyyatii...Allahu Al Hadi Ila Shawab..



 

Meneguk ’Azam..
09 Maret 2010

`Azam berasal dari bahasa Arab, al-`azmu. Biasanya, kata ini diartikan dengan al-iraadah al-qawiyyah (keinginan kuat). Bukan ambisi, tapi keinginan. Orang yang punya sifat ini disebut `aazim: yang berkeinginan kuat. Dan ternyata, `azam ini terdapat di dalam Al-Quran (Qs. 3: 159). Dimana Allah memerintahkan tiga hal dalam ayati itu: (i) jika Anda punya hanya besar, keinginan kuat, sandarkan kepada Allah, (ii) sandaran itu namanya tawakal, dan (iii) karena Allah sangat cinta kepada orang-orang yang bertawakal.

Maksud Qs. 3: 159 di atas adalah: ummat Islam harus punya keinginan kuat. Tapi bukan sekadar keinginan tanpa dasar. Sebesar apapun keinginan (`azam) itu harus memiliki sandaran vertikal kepada Allah. Namanya tawakal. Apakah tawakal merupakan jurus terakhir? Ternyata tidak. Sebelum tawakal ada proses yang harus dilalui, yaitu:
(a) usaha, (b) ikhtiyar, (c) doa, baru (d) tawakal.

(a) usaha dalam Al-Quran disebut al-sayu. al-Sa`yu ini bukan usaha yang asal jadi: setengah-setengah atau dilakukan sambil lalu. Tapi usaha ini harus serius, tidak main-main. Contoh konkret dari usaha ini adalah yang dilakukan oleh ibunda Siti Hajar ketika mencari air untuk minum anaknya - sang calon nabi Allah - Ismail. Dia berlari-lari kecil diantara bukit Safa dan Marwa. Dan Sai ini dilakukan bukan main-main, karena merupakan ritual ibadah Haji. Karena memang, manusia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali hasil usahanya sendiri (Qs. 53: 39). Maka, saudaraku! Berusahalah dengan serius, jangan main-main.

(b) Ikhtiyar. Ikhtiyar ini artinya usaha untuk mencari yang terbaik. Maka ikhtiyar bisa maknanya "khiyar" (kebebasan untuk memilih). Tapi memilih harus yang "khayr": yang baik, sebaik-baik, atau bahkan terbaik. Jangan asal pilih. Keinginan, harus juga dipilih. Ada perkara yang membingungkan dan harus dicari masalah dan jalan keluarnya, maka harus dilakukan dengan cara "ISTIKHARAH": salat untuk mencari yang terbaik. Di sini lah pentingnya `azam itu memiliki landasan vertikal kepada Allah.

(c) Doa. Ini bagian penting dari usaha dan ikhtiar. Tanpa doa, orang akan disebut sombong. Karena berarti dia tidak membutuhkan Allah. Allah pun tidak suka kepada orang-orang yang tidak berdoa dan tidak mau meminta kepada-Nya. Maka, jangan tinggal doa ini. Karena tanpa ini orang akan menjadi apatis terhadap keberadaan Allah. Dia akan takabbur, menganggap Allah tidak berperan dalam usaha, ikhtiar dan usahanya.

(d) Tawakal. Baru lah kita jadikan Allah sebagai wakil kita. Dalam Al-Quran Allah disebut wakil, karena: (a) kita percaya kepada-Nya. Kita tidak mungkin menunjuk orang mengurusi urusan kita kalau kita tidak percaya kepadanya. Apalagi Allah. (b) Allah benar-benar bisa menyelesaikan urusan kita. Kalau wakil tidak bisa menyelesaikan urusan kita, maka tidak layak menjadi wakil. Sama seperti wakil rakyat, yang malah merugikan rakyat. Maka tidak bukan wakil. Kalau pun terpasak disebut wakil, hanya bisa menjadi wakil perut dan syahwatnya. Tidak lebih.

Kesimpulanya adalah Untuk itu, mari kita ber`azam dengan benar. Berkeinginan kuat dengan baik. Penuh pilihan, banyak solusi, kuat sandaran. Hanya diproyeksikan untuk Allah, agama Allah, dakwah Islam, dan kemaslahatan ummat Islam. Bila perlu, kemaslhatan ummat manusia. Karena kita adalah: Rahmatan lil Alamin. Mulai sekarang, ber-azamlah dengan baik dan benar. [Q S]

Esensi Khusu’ Dalam Sholat
02 Maret 2010


Sejumlah artikel dan buku telah menjelaskan makna khusyu dalam shalat. Sebelum mengetahui bagaimana makna khusyu ini sebuah artikel Ahmad Adnan Fadzilmenarik untuk disimak:


Apa makna khusyuk?


Khusyuk pada pengertian bahasa bermaksud tunduk dan merendah diri. Orang yang khusyuk ialah orang yang tunduk dan merendah diri. Adapun pengertian khusyuk di dalam solat, di bawah ini kita kemukakan beberapa pandangan ulamak tentang makna khusyuk di dalam solat;


1. Berkata Saidina ‘Ali r.a.; “Khusyuk itu ialah khusyuk hati”. Menurut riwayat lain, beliau berkata; “Khusyuk itu ialah tidak berpaling ke kanan atau ke kiri”. 


2. Menurut Imam al-Qurthubi; “Khusyuk ialah suatu keadaan di dalam jiwa di mana dia mewujudkan keadaan tetap (tenang) dan merendah diri segala anggota”.


3. Menurut Imam Zamakhsyari; “Khusuk dalam solat ialah hati berkeadaan takut dan mata selalu tunduk (ke tempat sujud)”. (al-Kasysyaf)


4. Berkata Imam al-Jurjani; “Orang yang khusyuk ialah yang merendah diri kepada Allah dengan hati dan segala anggotanya”. (at-Ta’rifat)


5. Menurut Imam al-Kalbi; “Khusyuk itu ialah suatu keadaan di hati di mana dia mempunyai sifat takut, muraqabah (selalu memperhati kan Allah) dan merendah diri kepada kebesaran Allah, kemudian dia mempengaruhi segala anggota yang membawa berkeadaan tetap, seronok melakukan solat, tidak berpaling-paling, menangis dan berdoa”.


Dari penjelasan para ulamak di atas, dapat kita simpulkan bahawa khusyuk di dalam solat hendaklah menggabungkan dua bentuk khusyuk;


1. Khusyuk batin; iaitu khusyuk hati dengan menghadirkan di dalam hati perasaan takut kepada Allah, rendah diri serta mengharapkan rahmatNya.


2. Khusyuk lahir; iaitu khusyuk kepala dengan cara menundukkannya, khusyuk mata dengan cara tidak menoleh atau berpaling-paling, khusyuk tangan ialah dengan meletakkan tangan kanan ke atas tangan kiri dengan penuh hormat seperti perlakuan seorang hamba dan khusyuk dua kaki ialah dengan tegaknya berpijak dan berkeadaan tetap, tidak bergerak. Khusyuk lahir ini terbit dari khusyuk batin atau hati tadi.


Kenapakah khusyuk  itu penting?


Khusyuk penting karana pahala solat bergantung kepadanya. Sabda Nabi s.a.w.; “Sesungguhnya seorang lelaki selesai menunaikan solat, namun tidak ditulis pahala untuknya melainkan sepersepuluh, sepersembilan, seperlapan, sepertujuh, sepernam, seperlima, seperempat, sepertiga atau seperdua” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban dari ‘Ammar bin Yasir r.a.. Menurut Imam as-Suyuti, hadis ini soheh. Lihat. Al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 1978).


Dalam hadis yang lain Nabi s.a.w. bersabda; “Barangkali seorang yang bangun mengerjakan solat di malam hari, habuannya dari solat malamnya hanyalah berjaga malam (yakni tidak ada pahala). Dan barangkai seorang yang berpuasa, habuannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga”. (Riwayat at-Tabrani, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah r.a.. Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini soheh. Berkata Hafidz al-‘Iraqi; ia adalah hasan. Menurut Imam al-Haitami; perawi-perawinya adalah siqah. Lihat; al-Jami’ as-Saghier dan Faidhul-Qadier, hadis no. 4405).


 Contoh manusia yang khusyuk di dalam solat


Contoh manusia yang khusyuk ialah para sahabat. Abdullah bin ‘Umar r.a. –salah seorang sahabat Nabi yang masyhur- pernah menceritakan sentang solat para sahabat dengan katanya; “Para sahabat Nabi s.a.w. apabila mereka mengerjakan solat, mereka memberi perhatian bersungguh-sungguh kepada solat mereka, mereka menundukkan penglihatan mereka ke tempat-tempat sujud mereka dan mereka menyedari sesungguhnya Allah sedang berhadap kepada mereka, maka tidaklah mereka berpaling ke kanan dan ke kiri”.


Nyatakan rahsia-rahsia untuk mendapat khusyuk di dalam solat mengikut Imam al-Ghazali


Menurut Imam al-Ghazali, untuk menghadirkan khusyuk di dalam solat, ada enam perkara yang perlu kita lakukan semasa mengerjakan solat;


Pertama; Hudhur al-Qlabi (حضور القلب); iaitu menghadirkan hati kita ketika menunaikan solat iaitu dengan membuang dari hati segala yang tidak ada kena-mengena dengan solat kita.


Kedua; at-Tafahhum (التفهم); iaitu berusaha memahami iaitu melakukan usaha untuk memahami segala perkara yang dilakukan di dalam solat sama ada perbuatan atau yang dibaca/diucapkan.


Ketiga; at-Ta’dziem (التعظيم); iaitu merasai kebesaran Allah iaitu dengan merasai diri terlalu kerdil di hadapan Allah.


Keempat; al-Haibah (الهيبة); iaitu merasa gerun terhadap keagungan Allah dan siksaanNya.


Kelima; ar-Raja’ (الرجاء); iaitu sentiasa menaruh harapan besar kepada Allah mudah-mudahan solat yang dikerjakan akan diterima dan diganjari oleh Allah.


Keenam; al-Haya’ (الحياء); iaitu merasa malu terhadap Allah di atas segala kekurangan dan kecacatan yang terdapat di dalam solat.


Marilah kita tegakkan sholat, demi tegaknya agama islam. Khusu bisa di lakukan bilamana hati, akal dan relung hati mengerti dan faham betul akan kebutuhan akan sholat.