Go to content Go to navigation Go to search

Pria Ngaku "Tuhan" di Facebook Menuai Kecaman Ratusan Ribu Umat Islam
17 Maret 2010

 





Gambar "Tuhan" versi pria gila tersebut

Berikut Gambar “Tuhan” versi pria gila tersebut

Setelah ribuan pengguna bergabung dan mengancam akan memboikot situs jejaring sosial yang paling populer di dunia Facebook, akhirnya manajemen Facebook menghapus halaman dari seorang pria yang mengaku sebagai “Tuhan”. Pria tersebut, membuat dua account yang sama untuk mempromosikan dirinya sebagai “Tuhan”.

Lebih dari 100.000 umat Muslim meluncurkan kampanye melawan user yang mengaku sebagai “Tuhan” dan menghina agama, khususnya agama Islam. Kampanye tersebut mencapai puncaknya pada hari Selasa kemarin (16/3), saat anggota-anggota mereka mengumumkan akan memboikot Facebook jika halaman dari pria yang mengaku “Tuhan” tersebut tidak dihapus.

Satu kampanye yang mencapai puncak rekor, ketika kampanye itu mampu menarik 52.000 anggota dalam waktu yang sangat singkat, sementara kampanye-kampanye yang lain biasanya hanya menarik lebih dari 16.000 anggota.

Kampanye lain yang sejenis yang menyerukan untuk memboikot Facebook jika account pria itu tidak dihapus. Dan untuk kampanye ini telah menarik lebih dari 15.000 anggota.

Sepertinya pria yang mengaku Tuhan tersebut sengaja ingin menimbulkan kemarahan dari para pengguna Facebook khususnya umat Islam, dan pria yang berpura-pura menjadi Tuhan itu juga berhasil menarik cukup banyak pendukung.

Beberapa user yang sengaja bergabung dengan halaman grup miliknya, berpikir mereka bergabung berusaha untuk bisa meyakinkan pria gila tersebut untuk berhenti mengaku-ngaku Tuhan.

Sedangkan kampanye lain yang diluncurkan memberikan peringatan para pengguna Facebook untuk tidak melakukan hal ini karena hanya akan membantu meningkatkan jumlah pendukungnya.

Meskipun akhirnya account Facebook pria gila itu dihapus, namun pria gila itu membuat account lain dengan konten yang sama.

Grup facebook pertama berjudul “Allah itu hidup dan tidak mati” dan grup yang lain berjudul “orang beriman dalam Tuhan yang baru.” Selain fakta bahwa isi dari dua halaman grup yang baru mirip dengan yang lama, gaya penulisannya pun sama persis. Hal ini diyakini bahwa orang yang sama menciptakan grup baru tersebut dengan account yang baru.

Di grup yang baru, pria gila tersebut juga menyatakan ada usaha-usaha sebelumnya yang berusaha menghancurkan misinya yang menurut dia, sangat gagal. “Halaman grup dari “Tuhan” telah kembali meskipun dengan usaha apa pun yang Anda lakukan,” tulisnya.

“Halaman sebelumnya tidak ditutup. Sayalah yang menutupnya setelah saya bosan dengan nasihat yang Anda terus berikan kepada saya. Saya memutuskan untuk mengambil waktu istirahat dan menikmati kedamaian sebelum meluncurkan kembali halaman dengan tampilan baru. “

Dua halaman grup “Tuhan” itu juga berisi ejekan terhadap ayat-ayat dari Quran dan Injil serta menampilkan kuis yang menyerang dasar-dasar fundamental keagamaan. Pria gila itu berjanji untuk meluncurkan sebuah “Pesan keselamatan langsung” via email. Ia juga mengklaim bahwa al-Qaidah cabang Maroko telah menawarkan hadiah satu juta dolar untuk kepalanya.(fq/aby)



Filed under: Berita, Global , ,


 


 



Raditnya Dan Qory Sebuah Tragedi Pemikiran
15 Maret 2010

Raditya Dika dan Qory telah menjadi buah bibir di seluruh Nusantara belakangan ini.  Yang satu adalah blogger yang telah mengembangkan karirnya menjadi penulis naskah film, sedangkan yang satunya lagi baru saja terpilih sebagai Putri Indonesia 2009.  Akan tetapi, yang menyedot perhatian banyak orang bukanlah karir mereka, melainkan cara mereka menjalaninya.  Raditya menulis naskah untuk sebuah film yang diberi judul Menculik Miyabi, sedangkan Qory mengorbankan jilbabnya demi kompetisi.



Apa yang terjadi pada mereka, atau pilihan yang mereka buat, bukanlah sebuah gejala semalam.  Pemikiran tidaklah dibangun secara tiba-tiba, melainkan dengan melalui beberapa tahapan fundamental.  Apalagi jika seorang blogger memutuskan untuk mempromosikan seorang bintang film porno – baik itu tujuan utamanya atau tidak – dan seorang putri Aceh sampai memutuskan untuk menanggalkan identitas keislamannya, bahkan kemudian mengumumkannya di atas panggung.  Sesuatu telah terjadi pada mereka, dan kita akan sangat rugi jika tidak menjadikannya sebagai bahan pemikiran, tentunya dengan menjadikan kontruksi pemikiran Islam sebagai pembandingnya.



Dualisme

Kedua kasus menunjukkan masalah dualisme yang sangat berat, sebagaimana kerap terjadi dalam peradaban Barat.  Ust. Hamid Fahmi Zarkasyi telah menjelaskan fenomena ini dengan sangat menarik.  Kepercayaan Zoroaster memandang dunia sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan.  Orang Mesir kuno menjadikan Ra sebagai simbol kehidupan dan kebenaran, berlawanan dengan Apophis yang merupakan simbol kegelapan dan kejahatan.  Mitologi Yunani juga selalu menampilkan pertarungan antara Zeus dengan para Titan.  Jiwa dan raga dipandang sebagai dua hal yang terpisah.



Sebagai kritik atas dualisme, ada pula paham monisme.  Zeus dan Titan ternyata berasal dari nenek moyang yang sama.  Dalam kepercayaan Zoroaster, kebaikan inisbatkan kepada Ahura Mazda, sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahriman.  Akan tetapi, keduanya adalah saudara kembar.  Jiwa adalah pasangan raga, sedangkan keduanya adalah satu kesatuan.  Akan tetapi, karena dominasi pemikiran sekuler yang mengobarkan arogansi akal tanpa wahyu, maka monisme tersingkir dan dualisme pun berkibar.



Masalah ini sebenarnya sudah terpecahkan oleh konsep tauhidullaah.  Semuanya adalah ciptaan Allah SWT.  Pendukung kebenaran dan kejahatan memang senantiasa bertarung, namun yang haq sudah dipastikan kemenangannya, sedangkan yang bathil sudah pasti akan kalah.  



Seorang dualis, menurut ust. Hamid, memandang fakta secara mendua.  Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah.  Jiwa dan raga tidak saling terkait karena beda komposisi.  Akal bisa jahat dan materi bersifat suci, atau akal selalu baik dan raga dianggap jahat.  Kebenaran pun menjadi dua: obyektif dan subyektif.  Di era post-modern, kebenaran bahkan ada yang absolut, ada pula yang relatif.  Karena itu, manusia pun berandai-andai mengenai ‘pelacur berhati suci’, ‘penjahat yang santun’, ‘pahlawan yang mesum’, ‘ateis yang baik’ dan seterusnya.  Dalam akhir uraiannya, ust. Hamid menjelaskan bahwa dualisme ini akhirnya menjadi semacam perselingkuhan intelektual.  Hati ber-dzikir pada Allah SWT, tapi pikirannya menghujat-Nya.



Cara berpikir dualis juga yang telah digunakan oleh Raditya dan Qory dalam memilih jalan hidupnya.  Raditya mengakui bahwa Miyabi telah menjalani hidupnya dengan sangat hina, namun kapasitasnya dalam film yang digarapnya hanya sebagai bintang film biasa.  Karena itu, Miyabi dalam hal ini tak perlu diperlakukan seperti bintang film porno, melainkan sebagai bintang film biasa.  Qory pun mengalami masalah yang sama ketika ia menganggap bahwa melepas jilbab – dengan ijin siapa pun, entah benar atau tidak – untuk memenangkan sebuah kontes kecantikan tidak membuatnya menjadi Muslimah yang buruk.  Sebagaimana kaum dualis lainnya, Qory mengaku lebih mementingkan ‘menjilbabi hati’ daripada ‘menjilbabi kepala’, karena hati dan tubuh memang dianggap sebagai dua hal yang terpisah.  Raditya mengira bahwa Miyabi bisa menjadi bintang film porno yang tidak merusak, sedangkan Qory menyangka bahwa dirinya bisa menjadi Muslimah yang baik tanpa harus menutup auratnya.



Dalam Islam, dualisme semacam ini sama sekali tidak dikenal.  Jika hatinya suci, maka tubuhnya pun harus secara rutin disucikan, bahkan hartanya pun ikut disucikan.  Iman pada konsep tauhidullaah harus tercermin dalam perbuatan.  Seorang pelaku kemaksiatan adalah pelaku kemaksiatan, selagi ia belum bertaubat.  Bukan hanya yang membuat dan yang mengkonsumsi minuman keras yang mendapat dosa, tapi juga yang mempromosikannya, yang menjualnya, bahkan mereka yang bersikap seolah-olah hal itu tidak ada salahnya.  Maka, yang berdosa bukan hanya yang membuat dan menonton film porno Miyabi, tapi juga yang membuat Miyabi dikenal luas, termasuk juga yang bertingkah seolah-olah gaya hidupnya itu dapat dibenarkan.  Pemikiran Qory juga kontradiktif.  Jika memang merasa bahwa rambutnya begitu indah, mengapa ia tidak mensyukurinya dengan menjalankan perintah Dia yang telah memberinya rambut indah?



Relativisme

Dalam kasus Raditya, penyakit relativisme sangat menonjol.  Dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi swasta, ia mengatakan bahwa penolakan orang terhadap film Menculik Miyabi itu biasa-biasa saja, kurang lebih sama seperti ketidaksukaannya pada sinetron yang jalan ceritanya absurd.  Alasan ini biasa digunakan oleh kaum relativis untuk menghindari perdebatan.  Semuanya dianggap relatif, tergantung siapa yang menilai.  Maka menolak bintang film porno pun dianggap sama bobotnya dengan menolak sinetron yang digarap dengan buruk.



Ketika Ahmadiyah didebat, relativisme menjadi ‘pintu daruratnya’.  Kata mereka, dulu pun Rasulullah saw. dicela dan dicemooh orang, dituduh sebagai nabi palsu, tukang sihir, dan sebagainya.  Karena sama-sama dicela, maka Ghulam Ahmad dianggap sebanding dengan Nabi Muhammad saw.  Tapi mereka tak suka jika Ghulam Ahmad diperbandingkan dengan Hitler, padahal Hitler juga dicela.  Mungkin sekarang Raditya dan Qory pun merasa bagai pahlawan, yang pada awal perjuangannya harus berdarah-darah, sebelum akhirnya mendapat bintang tanda jasa.



Tangga Kemaksiatan

Mereka yang hidup di alam nyata pasti menyadari bahwa kemaksiatan sebenarnya bekerja seperti anak-anak tangga; dosa yang satu mengantar pada dosa berikutnya yang lebih parah.  Orang yang mengkonsumsi minuman keras biasanya tidak mengakhiri ‘petualangan maksiatnya’ di titik itu.  Setelah mabuk, terjerumuslah ia pada dosa-dosa lainnya, misalnya zina.  Satu-satunya cara untuk memutus tangga kemaksiatan ini adalah dengan bertaubat.   Sekarang Qory telah merelakan sebagian auratnya demi gelar Putri Indonesia.  Entah aurat yang mana lagi yang akan direlakannya untuk gelar Miss Universe.  



Qory bukan Miyabi, namun tindakan Qory bisa jadi menciptakan Miyabi-Miyabi baru di kemudian hari.  Jika agama dan aurat pun digadai untuk mendapatkan gelar Putri Indonesia – yang sebenarnya nyaris tak bermakna dan hanya berlaku setahun – maka dalam 10-20 tahun ke depan akan lebih banyak lagi yang dikorbankan.  Jika sekarang Qory merelakan rambut dan beberapa bagian tubuhnya untuk menjadi konsumsi publik, maka bisa jadi di masa depan akan ada perempuan-perempuan Indonesia yang merelakan seluruh tubuhnya diperlihatkan dan dijamah siapa saja di depan kamera asalkan bayarannya cukup.  Islam telah memperingatkan manusia agar menjaga dirinya supaya tidak menjadi pelopor dan inspirator dalam perbuatan dosa.



Kontroversi soal Miyabi yang ditimbulkan oleh Raditya juga telah memperlihatkan puncak gunung es yang selama ini belum terlihat.  Sebelumnya, menonton film porno masih dianggap sebagai hal yang memalukan.  Sekarang, ramai para artis mengaku dengan bangga bahwa dirinya juga kerap menikmati hasil kerja Miyabi.  Seolah-olah dengan begitu mereka terhindar dari predikat munafiq.  Padahal, melakukan dosa dan bersikap bangga dengan dosanya adalah dua hal yang sangat berbeda.  Jika yang pertama bisa memberatkan timbangan amal buruk di akhirat, maka yang kedua bisa melemparkan pelakunya dalam kekafiran.



Dulu, umat Islam takut menonton film porno.  Kemudian film porno beredar di mana-mana, termasuk di tempat-tempat terbuka yang sudah pasti diketahui juga oleh polisi.  Orang menonton film porno dengan sembunyi-sembunyi dan sendiri-sendiri.  Kemudian yang menonton merasa terasing karena ‘kesendiriannya’, lalu ia mengajak teman-temannya, dan mereka pun menonton bersama.  Setelah itu, yang tadinya dianggap memalukan kini malah dianggap lumrah.  Kalau tidak menonton film porno, tidak dianggap laki-laki.  Sekarang, akibat kontroversi Menculik Miyabi, orang tidak malu lagi mengaku sebagai penikmat film porno.  Kalau bintang film porno pun diapresiasi, maka bintang-bintang panas lokal seperti Julia Perez, Kiki Fatmala, Sarah Azhari dan semacamnya akan ‘mendapat angin’, karena Miyabi jelas lebih bejat.  Beberapa dasawarsa ke depan, Indonesia mungkin bukan lagi sekedar pasar besar untuk industri pornografi, melainkan juga produsennya.  Sebenarnya hal ini sudah dirintis dengan menjamurnya teknologi ponsel yang memiliki kamera dan perekam video.  Raditya dan Qory, baik mereka mengakuinya atau tidak, memiliki andil besar dalam meruntuhkan moral bangsa ini.



Boikot Sosial

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa judul artikel ini tidak menyebut-nyebut nama Miyabi.  Kedatangan Miyabi ke Indonesia memang bukan inti permasalahannya.  Tanpa sepengetahuan kita, bisa jadi telah banyak bintang film porno yang datang berkunjung ke tanah air.  Banyak bintang Hollywood – yang moralitasnya juga diragukan – telah berkunjung ke Bali.  Permasalahannya: mengapa seorang Muslim telah mempromosikan seorang bintang film porno, mengundangnya secara khusus ke tanah air, dan bersikap seolah-olah ia setuju atau tidak bermasalah dengan gaya hidupnya?



Mendemo Miyabi bisa jadi hanya buang-buang waktu saja, atau minimal tidak terlalu urgen untuk dilakukan.  Kecil sekali kemungkinannya penolakan umat Islam Indonesia akan berpengaruh pada Miyabi yang masa lalunya sudah sangat kelam, apalagi Miyabi sendiri bukan seorang Muslimah.  Kalaupun film Menculik Miyabi tidak jadi diproduksi, Miyabi takkan kekurangan order di industri yang telah dikuasainya.  Kita juga tidak menemukan celah dalam hukum negeri ini untuk menolak kehadiran Miyabi di Indonesia.



Pandangan seharusnya dihadapkan pada Raditya dan Qory, karena kita punya kewajiban untuk menyuarakan kebenaran, karena mereka Muslim, dan karena kita punya kewajiban untuk mengembalikan keduanya pada jalan yang benar.  Hemat saya, demonstrasi seharusnya diarahkan pada kedua tokoh ini.  Oleh karena itu, demonstrasi tidak mesti digelar di bandara (tempat Miyabi disangka akan mendarat), tapi justru lebih tepat untuk dilaksanakan di depan rumah dan sekitar lingkungan tempat tinggal Raditya dan Qory, kampus tempat mereka kuliah, dan seterusnya.  Mereka yang punya akses langsung untuk bergaul dengan mereka memiliki kewajiban lebih untuk memperlihatkan dengan gamblang ketidaksetujuannya sebagai seorang Muslim.  Ini adalah kewajiban, bukan sekedar kebolehan.  Tidak bersikap bukanlah sebuah pilihan.


Edu Muslim

Waspadalah Dengan Apa Yang Kau Pikirkan
12 Maret 2010

Berikut adalah Salah satu ritme dalam berfikir., Sejauh mana kamu sudah mengendalikan pikiranmu?

Pertanyaan jawab dengan Benar atau Salah

1. Saya selalu berpikir positif hampir di setiap waktu.

2. Terkadang saya Terkadang saya bertanya apakah saya berbakat seperti orang lain.

3. Seringkali emosi saya mudah berubah dan saya mudah tersinggung.

4. Saya dapat mencapai hal-hal yang saya pikir mampu saya lakukan.

5. Saya merasa keadaan tidak menjadi lebih baik walaupun saya sudah berusaha.

6. Saya mementingkan pendapat keluarga dan teman sebelum mengambil keputusan.

7. Rasanya saya jarang bergosip dan mencari kesalahan orang lain.

8. Walaupun keadaan tidak menguntungkan bagi saya, saya tetap diam dan menerima saja keadaan tersebut.

9. Seringkali saya mengeluh dan menyesali hal-hal yang saya jalani.

10. Saya percaya diri akan mempu mencapai tujuan yang saya jalani.

11. Relajar dari pengalaman merupakan hal yang saya lakukan.

12. Saya pikir saya tidak memiliki kemampuan untuk mencapai mimpi saya.

13. Saya selalu apa adanya sehingga memiliki hubungan yang menyenangkan dengan teman/ orang lain.

14. Saya selalu dapat menikmati apa yang saya lakukan.

15. Seringkali saya gagal dalam tugas/ pekerjaan yang saya lakukan.

Skor :































































 No. 1 2 3  4 5 6 7 8 9

10

11 12 13

14

15

Total
 Benar 2 1 1

2 1 1 2 1

1

2 2

1

2

2

1

 
  Salah 1 2  


 

Interpretasi :

Skor : 26-30: Selamat! Kamu mampu engendalikan pikiranmu untuk selalu berpikir positif. Hal ini membuatmu selalu menikmati apa yang kau lakukan, sehingga hasil yang kamu dapatkan juga memuaskan.

Skor : 20-25 : Kamu tampak sudah cukup mencoba berpikir positif dalam keseharianmu, namun terkadang kamu tetap cemas dan saat itulah pikiran-pikiran negatif kembali berputar di kepalamu. Jangan khawatir, selama kamu tetap mencoba, berpikir positif akan terbangun dalam dirimu.

Skor di bawah 19 : Wah, tampaknya, kamu harus membuang jauh-jauh cara berpikirmu selama ini karena pikiranmu didominasi dengan hal-hal negatif, seperti rasa takut gagal, cemas dan sebasebagainya. Cobalah untuk tidak terpaku pada apa yang tidak mampu kamu lakukan, tapi fokuskan pikiranmu pada apa mampu kamu lakukan, prestasi yang telah kamu capai dan syukuri apa yang kamu miliki.
Selanjutnya segala penilaian terhadap cara cerdas ni hanya anda yang tahu jawabanya ..Di ambil Dari "Kavrella"..

Facebook, Citra, dan ’Jebakan’
28 Februari 2010

Facebook, Citra, dan ‘Jebakan’





E-mail Cetak PDF













 



 



 



 



Oleh M. Anwar Djaelani



 



 



 



Facebook termasuk buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kapanpun, buah iptek memiliki dua aspek, manfaat dan mudharat. Jika tak kita manfaatkan secara benar, Facebook bisa merusak citra seseorang dan bahkan bisa terkategori turut meruntuhkan Islam. Mengapa?


Permainan Vs Citra


Ajining diri soko lathi. Pepatah Jawa ini berguna untuk kita pedomani. Bahwa, lantaran lisan yang terjaga penggunaannya, kita bisa terhormat di depan publik, dan sebaliknya.


Dalam hal kehati-hatian penggunaan lisan, Islam lebih tegas mengatur. Sebab, tak hanya bertalian dengan citra diri, tetapi bahkan berhubungan dengan keselamatan dunia-akhirat seseorang. Intinya, umat Islam harus berhati-hati di setiap tingkah-lakunya, termasuk saat menggunakan lisan. Berbicara itu enteng, tapi pertanggungjawabannya sangat berat. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS Qaaf [50]: 18). Dalam hal ini, bukan perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat malaikat, tetapi termasuk yang tidak bermanfaat.


Oleh karena itu, hendaklah kita berpikir dulu sebelum berbicara, sebab jika ‘tergelincir’ kita bisa terlempar ke neraka. Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat (HR Muslim). Berhati-hatilah! Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah (HR Bukhari dan Muslim).


Jangan anggap enteng berbagai kata yang keluar dari lisan kita, sebab di sisi Allah itu perkara besar. Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur [24]: 15).


Dengan lisan yang terjaga (selalu diarahkan pada perkara yang Allah ridha), seseorang bisa mendapatkan ketinggian derajat. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzab [33]: 70). Sebaliknya, kita bisa menuai bencana jika serampangan dalam berkata-kata.


Kecermatan seseorang dalam merangkai kata-kata (dan apalagi jika disampaikan secara indah) merupakan gambaran akal dan budi yang terbimbing iman. Pemilihan kata yang tepat dan bernas adalah bagian dari kemuliaan akhlak.


Kini, situs jejaring sosial Facebook telah menjadi salah satu “ajang berbicara” (baik dalam bentuk monolog, dialog, dan diskusi). Saat online internet, banyak yang langsung membuka akun Facebook-nya. Tak aneh, jika ada kabar bahwa Facebook telah menjadi peringkat ketiga situs yang paling banyak dikunjungi.


 



 



Sebagian lalu memanfaatkannya sebagai lahan dakwah dengan jalan setiap memperbarui status, selalu menulis dengan semangat menyeru ke jalan Allah. Setiap kata yang (akan) ditulisnya dipikir matang-matang dan dimuati semangat dakwah.



 



 



 



Tapi, sayang, bagi sebagian (besar?) pengguna lainnya, Facebook tampak hanya sekadar untuk main-main. “Lampu mati, sementara pekerjaan banyak, … wuaaahhh,” keluh seseorang di Facebook. “Malam ini, saya jalan-jalan, dan saat pulang mampir makan Nasi Punel di Jalan Persahabatan. Enak!,” tulis seseorang menunjukkan aktivitas terakhirnya.


Dua contoh status Facebook di atas (catatan: dua kalimat itu tak persis sama dengan aslinya, tapi dengan sedikit ‘adaptasi’) adalah sekadar contoh ucapan yang tergolong tak berguna untuk dipublikasikan karena sangat bersifat pribadi.


Untuk ‘kasus’ pertama, misalnya, tak salah jika ada yang berpikir bahwa si penulis sedang pusing memikirkan tanggung-jawabnya yang terbengkalai (yaitu pekerjaan tak selesai karena mendadak lampu mati). Maka, tak bisa disalahkan pula jika kemudian orang berkesimpulan bahwa si penulis tak pandai mengatur waktu. Buktinya, saat datang situasi tak terduga –yaitu lampu mati- dia kalang kabut. Sementara di ‘kasus’ kedua, menunjukkan gaya hidup si penulis yang suka jalan-jalan dan makan-makan (terlebih, di warung / di pinggir jalan).


Banyak orang melihat Facebook hanya semacam hiburan. Mereka pikir tak akan rugi apa-apa dengan membeberkan informasi (pribadi). Mereka lupa, orang bisa mengukur  ketinggian akal dan budinya lewat ucapan / tulisan yang dibuatnya.


 


Waspadai ’Jebakan’


 



 



Hidup adalah perjuangan. Untuk itu, pasti ada lawan yang harus selalu kita waspadai. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka (QS Al-Baqarah [2]: 120).



 



 



 



Dalam konteks Facebook, bacalah www.eramuslim.com 10/11/2009: ”Israel Gunakan Facebook sebagai Alat Mata-Mata Dunia”. Bahwa: ”Situs jejaring sosial itu, jelas-jelas disinyalir sebagai alat Israel untuk memata-matai orang-orang Islam dan mendapatkan informasi. Menurut Indonésie Magazine yang berbasis di Prancis, intelijen Israel fokus pada pengguna Facebook, terutama kepada Arab dan Muslim. Israel menggunakan informasi yang diperoleh melalui halaman Facebook mereka itu untuk menganalisis aktivitas mereka dan memahami bagaimana mereka berpikir”.


Lebih jauh, ”Sangat berbahaya bagi khususnya kaum muda, yang seringkali mengungkapkan data pribadi tentang diri mereka di Facebook karena itu merupakan semua hal yang bisa diketahui oleh orang lain dengan mudah. Nah, Facebook tentunya tidak menemukan kesulitan itu, karena seperti kita ketahui, umat Islam dan generasi mudanya, secara berbondong-bondong pro-aktif berkelayapan di situs ini, bahkan sekadar untuk meng-up-date status yang lagi makan mie ayam atau mungkin ke kamar mandi”.


 



Jika melihat banyak status pemakai Facebook isinya mirip-mirip seperti dua contoh di atas, maka bukan tak mungkin musuh Islam akan tersenyum. Sebab, bisa saja mereka berkesimpulan –antara lain- bahwa hanya sedikit orang Islam yang serius memikirkan masalah keumatan. Justru yang terbanyak adalah mereka yang hanya pandai bersenda-gurau dan memikirkan diri sendiri saja.



 



 



 



 


Jadi, masih-kah kita mudah mengobral ucapan / tulisan di Facebook, yang (sebagian) lalu bisa diolah oleh musuh Islam menjadi ’senjata’ yang berbalik menghantam kita? Ayo. jangan terjebak!

Yesus Merokok dan Minum Bir Gegerkan kristen India
25 Februari 2010


Yesus Merokok dan Minum Bir Gegerkan Kristen India


SHILLONG, INDIA (voa-islam.com) – Buku pelajaran SD di India memancing kemarahan umat kristiani. Gara-garanya, buku SD tersebut memampang gambar Yesus merokok sambil memegang sekaleng minuman keras,



Gambar Yesus merokok dan memegang bir tersebut terpampang dalam buku diktat SD, sehingga memicu ketegangan antar golongan di negara India.



“Kami merasa amat terkejut dan sakit hati terhadap penggambaran Yesus yang amat keterlaluan dalam buku pelajaran sekolah,” kata Uskup Besar Dominic Jala kepada Agence France Presse (AFP) pada hari Senin (22/02).



“Coba pikirkan dampak dari hal ini terhadap para pelajar yang masih belia? Kami mengecam pihak penerbit yang betul-betul tidak menghormati agama.”




Gambar Yesus tersebut ada di dalam buku teks anak-anak di sekolah-sekolah milik gereja di negara bagian Meghalaya, sebelah timur laut India, yang didominasi oleh umat Kristiani.



Gambar tersebut dipergunakan sebagai ilustrasi huruf “I” untuk kata “Idol” (sesembahan).



Gerakan Pemuda Katolik India dari Keuskupan Agung Shilong mengutuk beredarnya gambar Yesus tersebut.



“Publikasi gambar tercela semacam itu amat melukai sentimen keagamaan kami. Pihak penerbit buku jelas-jelas telah melanggar undang-undang India.”



Pemerintah negara bagian Meghalaya turut mengecam beredarnya gambar kontroversial Yesus tersebut.



“Kami mengecam keras tindak penistaan agama seperti itu,” kata M Ampareen Lyngdoh, menteri pendidikan Meghalaya.



Dari total populasi India yang berjumlah 1,1 miliar orang, umat Kristiani hanya berjumlah kurang dari 3 persen. Namun pemeluk Kristen di Meghalaya mencapai 70 persen.



Gereja Katolik memutuskan hubungan dengan penerbit yang berbasis di New Delhi, Skyline Publications.



“Kami telah mengabarkan kepada seluruh sekolah anggota kami di India untuk tidak lagi menggunakan jasa penerbit itu,” kata Babu Joseph, juru bicara Konferensi Keuskupan Katolik India (CBCI).



“Yesus adalah figur sentral dalam iman Kristiani dan kehidupan umat Kristen. Upaya-upaya untuk merusak citranya betul-betul keterlaluan dan tidak sejalan dengan semangat toleransi antar umat beragama di India.”



Para pemuda Kristen turun ke jalanan untuk memprotes beredarnya gambar tersebut, hal itu berujung pada pembakaran dua buah gereja dan penyerangan terhadap para pastor.



Untuk meredakan ketegangan, pemerintah menutup penerbit yang bersangkutan dan menangkap pemilik usaha penerbitan tersebut.


“Telah diambil tindakan hukum terhadap perusahaan penerbitan tersebut, dan pemiliknya telah ditangkap.”



Menteri tersebut mengatakan, meski sekolah swasta tidak diharuskan menggunakan buku yang ditetapkan oleh Dewan Pendidikan Sekunder Meghalaya, pemerintahan Meghalaya telah mengambil langkah cepat dan menyita seluruh salinan buku teks tersebut dari berbagai sekolah dan toko buku.



Kaum Kristiani India acapkali mengeluhkan perlakuan diskriminatif dari umat Hindu, yang merupakan agama mayoritas di India. Kaum garis keras Hindu menuding para misionaris Kristen telah menyuap rakyat miskin dan orang-orang dari kasta rendah Hindu agar bersedia masuk Kristen dengan imbalan pendidikan gratis dan layanan kesehatan. [taz/suaramedia]

Dekontruksi Wahyu
24 Februari 2010

Rabu 17 Februari 2010 suhu ruang sidang MK menjadi panas. Bukan karena suhu matahari Ibukota yang menyengat. Akan tetapi suhu panas itu bersumber dari bibir seorang tokoh JIL yg menghina Rasulullah SAW.



LA, demikian inisial tokoh JIL tsb dalam sidang UU Nomor 1/1965 Tentang Penodaan Agama menyamakan Rasulullah SAW dg Lia Eden. "Apa yang dilakukan oleh Lia Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya Islam," komentar LA. Kontan, ucapannya menuai kecaman peserta sidang.



Pernyataan kontroversial tsb keluar, karena ia tdk memahami konsep wahyu. Wahyu adalah inspirasi yang berasal dari sesuatu yg metafisik. Wahyu semacam bisikan ghaib.



Tidak jauh berbeda dengan pikiran orientalis. Sebuah kamus istilah-istilah Islam yg ditulis seorang orientalis menulis wahyu sama dengan inspiration. Si penulis kamus tdk menulis keterangan selanjutnya.



Pemahaman ini sama yang diyakini penulis Injil . Injil tidaklah ditulis oleh Isa a.s. Para penulisnya mengakui mendapat ide dari Tuhan memberikan visi dan kemampuan untuk menuliskan ke dalam bentuk teks.



Jika itu yg dipahami LA, maka kita tak terlalu heran tanpa beban dia mengatakan Nabi Muhammad SAW sama dg Lia Aminuddin, krn Lia Eden menurut pengakuan mendapat bisikan dr Malaikat. Pendapat ini rancu, krn jk bisa jadi semua orang bisa mengaku mendapat wahyu – karena mendapat bisikan, entah itu dari syetan, jin, atau bangsa lelembut lainnya.



Wahyu dalam konsepsi Islam tidak diturunkan kecuali kepada Nabi dan Rasul SAW. Sifatnya sakral dan final. Dan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW kemudian disebut al-Qur’an.



Sakralitas dan finalitas al-Qur’an dipahami dengan kaidah "Lafdzan wa ma’nan minallah" (lafadz dan makna al-Qur’an itu dari Allah). Ketika Rasulullah SAW usai menerima wahyu, beliau langsung memanggil para sahabat untuk menuliskannya dalam lebaran-lembaran. Setiap saat Rasulullah SAW mengecek bacaan para sahabat, dan memerintahkan untuk membetulkan jika ada kesalahan menulis. Rasulullah SAW juga pada bulan Ramadlan talaqqi dengan Malaikat membaca al-Qur’an.



Jadi sejak awal, al-Qur’an telah ditulis dan selalu diverifikasi. Tidak ada celah untuk memalsukan al-Qur’an pada saat itu. Setelah Rasulullah SAW meninggal, lembaran-lembaran itu terkumpul menjadi satu. Beberapa sahabat mengoleksinya, seperti Aisyah, Hafshah, Ali, Ibn Mas’ud, dan lain-lain.



Kondifikasi yang dilakukan Ustman bin Affan merujuk dengan koleksi shuhuf-shuhuf yang telah dilokesi tersebut. Ketika proses penulisan, Ustaman memanggil seorang penulis untuk menyalin dan menghadirkan minimal dua saksi yang hafal al-Qur’an sekaligus orang yang mempunyai koleksi tersebut.



Adapun mushaf Ibnu Mas’ud yang konon berbeda, ternyata setelah diferivikasi dengan para shabat yang lain, adanya tambahan dalam shuhuf Ibn Mas’ud bukanlah ayat al-Qur’an akan tetapi adalah syarah(penjelasan dr ayat-ayat al-Qur’an).



Sementara, adanya kalimat-kalimat al-Qur’an yang konon menurut orientalis menyalahi kaidah gramatika bahasa Arab adalah juga tuduhan yang tidak logis. Sebab, lahirnya gramtika bahasa Arab itu dengan merujuk dan menginduk pada style bahasa al-Qur’an. Dan lahirnya pun beberapa puluh tahun setelah al-Qur’an.



Contoh ayat yang dipersoalakan Islam Liberal adalah surat Thoha ayat 63:

إن هذان لساحران (in hadzaani lasahirani).



menurut mereka mestinya jika mengikuti kaidah bahasa arab ayat itu berbunyi

إن هذاين لساحران.

Berkenaan dengan ayat tersebut, Muhammad Abu Syuhbah mengatakan, para imam rasm dan qiraah menyatakan bahwa lafadz ’hadzaani’ tidak dituliskan dengan alif atau juga ya di dalam mushaf Ustmani. Hal ini dimaksudkan untuk menurutpi semua qiraah mutawatirah. Inilah di antara rahasia yang terdapat di dalam rasm Ustmani. Dengan demikian, penyandaran kesalahan kepada penulis naskah mushaf tidak dapat diterima akal.



Bacaan tersebut tidak bertentangan dengan mushaf ustmani dan juga tata bahasa Arab. Uraian jabatan kalimat yang tercantum dalam ayat tersebut adalah, ’in’ itu adalah tanpa syiddah. ’in’ disini adalah ’in’ nafiyah (penegasian). Ada pakar berpendapat, bahwa isimnya (kata kerjanya) dari dhamir sya’n (kata ganti keadaan) yang dibuang – dan ini biasa dalam tata bahasa Arab. ’hadzani’ adalah mubtada dan saahirani adalah khabarnya. Dan kalimat mubtada dan khabar menjadi khabar dari lafadz ’in’ dan dhamir ’hu’ yang dibuang.



Ada pula yang berpendapat, kalimat tersebut secara bahasa benar, alasannya in itu huruf nafiyah sedangakn huruf lam memeiliki pengertian ’illa’ (kecuali) sehingga asalnya adalah ’Maa Hadzaani Illa saahirani’.



Dengan demikian pendapat terjadi kesalahan gramatika dalam bahasa Al-Qur’an tidak terbukti. Asumsi yang ada dalam fikiran Islam Liberal adalah al-Qur’an itu teks yang ditulis oleh manusia – asumsi ini pertama kali digaungkan oleh Orientalis yang ingin membongkar konsep dan makna wahyu suci.



Walhasil, tulisan ini adalah sebuah perenungan bersama. Pembahasan ini masih terlalu singkat, perlu kajian lebih mendalam lagi. Betapa tantangan pemikiran Islam saat ini begitu gencar. Jika saat ini kita diamkan, entah apa yang akan dialami oleh anak cucu kita kelak. Kita bendung pemikiran ’nyeleneh ’ saat ini juga, agar kelak anak cucu kita menjadi generasi Qur’ani yang loyal pada Rabbaul Izzah. Wallahu musta’an.



By: Kholili Hasib---Kampung Perdamaian, 19 Februari 2010---

Sebuah Pengantar
24 Februari 2010

Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama CyberMQ Blog. Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.